Cold Chain Vaksin untuk distribusi vaksin ke daerah terpencil

Cold Chain Vaksin untuk distribusi vaksin ke daerah terpencil
January 24, 2020 Pascal
In News

Cold Chain Vaksin untuk distribusi vaksin ke daerah terpencil

Dengan adanya Alat kesehatan, vaksin yang merupakan bahan yang mudah rusak Karena perubahan suhu dan paparan cahaya akan mudah untuk diatasi. Vaksin kerusakannya bersifat irreversible sehingga dapat mengakibatkan hilangnya keampuhan / potensi vaksin. Cold Chain adalah sistem penyimpanan dan transportasi untuk menjaga agar vaksin dalam keadaan optimal mulai dari produksi sampai disuntikan.

 

Vaksin live attenuated

Adalah vaksin hidup yang dilemahkan, seperti

Vaksin Flu semport, rubella (MMR) measles, mumps, vaksin tifoid oral, yellow fever dan Japanesse B Encephalitis. (Disimpan suhu 2 s.d. 8 C)
zoster dan varicella (Disimpan di suhu -15 C s.d. -25 C)

Inactived Vaksin

Adalah vaksin yang tidak aktif / mati, seperti

Vaksin tetanus, difteri, pertusis, HPV, vaksin flu triavalen, hepatitis A, hepatitis B, Hemofilus influenza tipe B, Pneumokokal polisakarida, Meningokokal polisakarida dan Tifoid suntik. (Suhu 2 s.d. 8 C)

Cold Chain

Keberhasilan program imunisasi tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan cold chain hingga ke puskesmas agar mampu menjaga serta menjamin kualitas vaksin yang diberikan kepada sasaran. Cold chain terdiri dari lemari es dan freeze untuk menyimpan vaksin dan termos (vaksin carrier) untuk membawa vaksin ke tempat pelayanan imunisasi, terutama untuk kegiatan di lapangan.

Menurut Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi, Depkes RI, 1992, sarana penyimpanan vaksin di setiap tingkat administrasi berbeda. Di tingkat pusat, sarana penyimpanan vaksin adalah cold room. Ruangan yang terisolasi untuk menghindari dari panas masuk ke dalam ruangan. Ada dua kamar dingin yaitu dengan suhu +20 C sampai +80 C dan suhu -20 C sampai -25 C. Sarana ini dilengkapi generator cadangan untuk mengatasi putusnya aliran listrik. Di tingka provinsi vaksin disimpan pada kamar dingin dengan suhu -20 C sampai -25 C, di tingkat kabupaten sarana penyimpanan vaksin menggunakan lemari es dan freezer.

Dasar yang menjadi pertimbangan dalam memilih cold chain antara lain meliputi jumlah sasaran, volume vaksin yang dimuat, sumber energi yang ada, sifat, fungsi serta stabilitas suhu penyimpanan, suku cadang dan anjuran WHO atau hasil penelitian atau uji coba yang pernah dilakukan. Sarana cold chain di tingkat Puskesmas merupakan sarana penyimpanan vaksin terakhir sebelum mencari sasaran. Tingginya frekuensi pengeluaran dan pengambilan vaksin dapat menyebabkan potensi vaksin menurun.

 

Baca Juga :

https://sigmabimed.com/news-events/

http://store.sigmabimed.com/product/smr-pt-450a/